Saturday, 23 April 2016

Hajatan Di Kampung

(google.com)

Sore itu saya menyalakan radio, kebetulan siaranya pengajian atau ceramah. Saya dengarkan sejenak, menarik, lalu saya dengarkan kembali sambil merekamnya.

Penceramahnya perempuan, kakak beradik. yang lebih dahulu berceramah si adik kemudian dilajutkan si kakak.

Saya tertarik dengan gaya ceramahnya. Saya jadi penasaran kira-kira siapa sosok pencermah itu.
Diwaktu yang lain, pengajian yang di radio yang sudah saya rekam itu saya putar kembali, saya dengarkan. Saya dapat petunjuk mengenai si pencaramah tersebut. Penceramah tersebut yakni Hj Kharisma Yogi Abrory dan Kharida Yogi Nomara Abrory. Nama pertama rasa-rasanya pernah dengar, sedangkan nama kedua, baru mendegar.

Nama Hj Kharisma tersebut membuat saya ingat masa kecil saya, ternyata dulu saya pernah menghadiri pengajian, dimana waktu itu  Hj Kharisma sebagai penceramah. Dulu, saat saya sekolah dasar entah kelas berapa, di kampung ada keluarga punya hajatan lah terus ngundang Hj Kharisma Yogi sebagai penceramah dalam acara pengajian. Waktu itu Hj Kharisma Yogi, masih remaja, dan terkenal banget saat itu. Saat itu yang datang banyak banget, tidak cuma warga setempat tapi juga dari kampung-kampung tetangga. Berjubel, saya masinh ingat betul.

Dikampung saya, biasanya orang yang lagi ada hajatan (Nikahan atau Sunatan), terutama  wong sugih, biasanya nanggap atau menghadirkan sesuatu. Suatu itu bisa pengajian, wayang dan orkes. Ada yang memilih menghadirkan penceramah, ada yang memilih nanggap wayang dan ada pula yang mendatangkan orkes melayu. Tapi tidak semuua, karena ngak semua (mungkin) punya biaya untuk menghadirkan penceramah, wayang atau orkes melayu, yang seperti itu ya biasanya cuma nyewa sound system, yang kalau pagi diputer lagu dangdut, siang diputer gending-gending campur sari dan kalau sore diputer qosidahan.
Itu dulu.

Kalau sekarang, saya perhatikan sudah jarang orang yang hajatan terus menghadirkan penceramah, wayang atau orkes. Ada sih, satu dua aja.

Kenapa ya? Apa soal biaya?

Rasa-rasanya bukan karena biaya.

Terus?

1 comments:

  1. Tempat
    Kan nanggep kayak gitu mesti punya tempat bang
    Kalo yg rumahnya udah dedempetan susah bang

    ReplyDelete